PUNCAK CIREMAI

PUNCAK CIREMAI

Jumat, 09 November 2012

SHALAT MUSAFIR

SHALAT MUSAFIR (PERJALANAN DI LUAR KOTA)

• Disunnahkan bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan luar kota, atau sedang menetap sementara (kurang dari empat hari) di sebuah kota, untuk mengqAshar shalat yang empat rakaat menjadi dua raka
at. Maka dia melaksanakan shalat Zuhur, Ashar, dan Isya hanya dua rakaat saja, kecuali dia shalat berjamaah dengan imam setempat maka ia shalat seperti biasa.

• Dia juga boleh tidak melakukan shalat sunnah rawatib kecuali sunnah sebelum subuh.

• Dibolehkan menjama’ shalat shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya di salah satu waktu shalat tersebut, apalagi dalam kondisi sedang tidak menetap di sebuah kota.

SHALAT ORANG SAKIT

Shalat merupakan kewajiban bagi seorang muslim dalam kondisi apa pun selama masih berakal dan dalam kondisi sadar. Meski demikian, Islam tetap memerhatikan kondisi orang dan kebutuhan mereka. Contohnya dalah ketika seseorang sedang sakit.

Berikut ini penjelasan tentang kondisi tersebut:

• Apabila seseorang sedang sakit, maka ia boleh shalat tidak berdiri jika ia tidak bisa berdiri. Atau jika dia sulit untuk berdiri, atau jika ia berdiri akan mengakibatkan gangguan kepada penyakitnya dan akan memperlambat kesembuhannya, maka ia boleh shalat sambil duduk, jika tidak bisa sambil duduk maka sambil berbaring. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak bisa, maka sambil duduk. Jika tidak bisa, maka sambil berbaring.” (HR. Bukhari, No. 1066)

• Barangsiapa yang tidak bisa ruku’ atau sujud, maka ia cukup membungkukkan badannya sesuai dengan kemampuannya.

• Siapa yang merasa kesulitan untuk duduk di atas lantai, maka duduklah di atas kursi dan sejenisnya.

• Siapa yang kesulitan untuk berwudhu dalam setiap shalat, karena sakit misalnya, maka dia boleh menjama’ antara shalat Zhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya.

• Siapa yang kesulitan untuk menggunakan air karena sakit, maka ia boleh tayammum untuk mendirikan shalat.

MAKNA IDUL ADHA

MAKNA IDUL ADHA BAGI KEHIDUPAN

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS al-Kautsar: 1
-3)

Pemberian nikmat oleh Allah kepada manusia tak terhingga. Anak isteri dan harta kekayaan adalah sebagian nikmat dari Allah. Kesehatan dan kesempatan juga nikmat yang sangat penting. Manusia juga diberi nikmat pangkat kedudukan jabatan dan kekuasaan. Segala yang dimiliki manusia adalah nikmat dari Allah baik berupa materi maupun non materi. Namun bersama itu pula semua ni’mat tersebut sekaligus menjadi cobaan atau ujian fitnah atau bala? bagi manusia dalam kehidupannya. Allah berfirman: "Dan ketahuilah bahwasanya harta kekayaanmu dan anak-nakmu adalah fitnah. Dan sesungguhnya Allah mempunyai pahala yg besar."

Meskipun Allah memberikan ni’mat-Nya yg tak terhingga kepada manusia tetapi dalam kenyataan Allah melebihkan apa yang diberikan kepada seseorang daripada yang lain. Sehingga ada yg kaya raya cukup kaya miskin bahkan ada yang menjadi seorang papa gelandangan berteduh di kolong langit. Demikian juga ada yg menjadi penguasa ada yg rakyat jelata. Ada pimpinan/kepala dan ada bawahan/anak buah. Ini semua juga dalam rangka cobaan bagi siapa yang benar-benar mukmin dan siapa yang hanya mukmin di bibir saja.

Salah satu bukti bahwa seorang mukmin telah lulus cobaan dalam ni’mat harta kekayaan adalah ia dengan ikhlas mengunakannya untuk ibadah haji. Sehingga bagi orang demikian akan memperoleh haji yang mabrur. Sedang haji mabrur pahalanya hanyalah surga sebagaimana sabda Nabi SAW? Orang yang dapat mencapai haji yang mabrur tiada pahala yang pantas baginya selain surga?

Betapa gembira dan bahagianya orang kaya yang dapat mencapai haji mabrur demikian. Belum lagi jika ia sempat salat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka tiada terkira lagi pahalanya. Namun ini konteksnya adalah orang yang kaya. Sedang orang yg tidak mampu/miskin tidak perlu berkecil hati. Bagi kita yg tidak mampu maka konteksnya terkandung dalam hadits Nabi SAW berikut “Hajinya orang yg tidak mampu adalah berpuasa pada hari Arafah."

Itulah maka sangat disayangkan bila di antara kita ada yang menyia-siakan kesempatan dari Allah yakni tidak mau berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut puasa Arafah itu.

Cobaan tentang harta kekayaan juga berkaitan dgn pelaksanaan ibadah udhiyah yakni menyembelih hewan yang terkenal dgn hewan qurban di hari raya. Karena pada hari ini Allah mensyariatkan untuk ber-udhiyah (menyembelih hewan) maka hari raya ini disebut dengan hari raya Adha. Demikian juga penjelasan Rasulullah SAW? Hari raya fitrah adalahpada hari manusia berbuka menyudahi puasa Ramadan. Sedangkan hari raya Adha adalah pada hari manusia ber-udhiyah?

Maka salah satu bukti lagi bahwa seseorang lulus dari cobaan harta adalah ia dengan ikhlas mau mengunakannya untuk ber-udhiyah baik itu berupa sapi kerbau maupun kambing. Ini tergantung pada kemampuan masing-masing. Seekor kambing boleh digunakan untuk satu orang beserta keluarga seisi rumahnya. Sedang sapi/kerbau boleh untuk tujuh orang beserta keluarga seisi rumah mereka masing-masing. Daging sembelihan ini termasuk syiar agama yakni utk dimakan menjamu tamu diberikan kepada yang meminta atau yang tidak meminta (orang mampu). Daging ini juga boleh disimpan untuk dimakan hingga hari tasyrik. Allah berfirman: "Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta." (QS. Al-Hajj 36).

Sementara itu cobaan besar terhadap sesuatu yg dimiliki manusia pernah dialami Abul Anbiya? Khalilurrahman Ibrahim AS. Beliau telah lulus ujian atau cobaan dari Allah. Hal ini didokumentasikan dalam Al-Qur'an? Dan ketika Ibrahim diberi cobaan oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu Ibrahim lulus dalam cobaan itu.

Kelulusan Ibrahim tidak hanya dalam melaksanakan perintah Allah tetapi juga dalam kebijaksanaannya menyampaikan perintah itu kepada anaknya yang sangat dicintainya. Beliau tidak langsung mengambilnya tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahan atau dengan taktik menculik teror dan intimidasi. Meskipun Ibrahim memiliki massa yang banyak tetapi beliau tidak menggunakan massa agar anaknya bertekuk lutut di hadapannya. Perintah Allah disampaikannya dgn transparan penuh argumentasi Ilahiah.

Sedangkan Ismail anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisinya sebagai anak ia tidak membangkang dan tidak bimbang. Ismail memberikan jawaban yang memancarkan keimanan. Dan tawakkal kepada Allah bukan untuk menonjolkan kepahlawanan atau kegagahan mencari popularitas. Ia tidak melakukan unjuk rasa yang konfrontatif tanpa mengindahkan akhlakul karimah atau dengan kekerasan untuk memprotes kehendak bapaknya.

Sungguh dua tokoh bapak dan anak ini merupakan uswah hasanah bagi umat manusia. Bahkan syariat Nabi Muhammad SAW merupakan syariat yang dulunya telah diwahyukan Allah kepada Ibrahim . Maka kita menyembelih hewan qurban di hari. Idul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim.

Idul Adha memiliki makna yg penting dalam kehidupan. Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai cobaan Allah.

MaknaIdul Adha tersebut

Menyadari kembali bahwa makhluk yang namanya manusia ini adl kecil belaka betapapun berbagai kebesaran disandangnya. Inilah makna kita mengumandangkan takbir Allahu akbar !

Menyadari kembali bahwa tiada yang boleh di-Tuhankan selain Allah. Menuhankan selain Allah bukanlah semata-mata menyembah berhala seperti di zaman jahiliah. Di zaman globalisasi ini orang dapat menuhankan tokoh lebih-lebih lagi si tokoh itu sempat menjadi pucuk pimpinan partainya menjadi presiden/wakil presiden atau ketua lembaga perwakilan rakyat. Orang sekarang juga cenderung mengidolakan politik dan ekonomi. Politik menjelma jadi segala-galanya dan ekonomi adalah tujuan hidupnya yang sejati. Bahkan HAM menjadi acuan utama segala gerak kehidupan. Padahal ini bertentangan dengan makna kalimah tauhid La ilaha illallah!

Menyadari kembali bahwa pada hakikatnya yang memiliki puja dan puji itu hanyalah Allah. Maka alangkah celakanya orang yang gila puja dan puji sehingga kepalanya cepat membesar dadanya melebar dan hidungnya bengah bila dipuji orang lain. Namun segera naik pitam wajah merah dan jantung berdetak melambung bila ada orang yang mencela mengkritik dan mengoreksinya. Inilah makna kita kumandangkan tahmid Wa lillahil-hamd !

Menyadari kembali bahwa manusia ini ibarat sedang melancong atau bepergian yang suatu saat rindu untuk pulang ke tempat tinggal asal yakni tempat yang mula-mula dibangun rumah ibadah bagi manusia Kabah Baitullah. Inilah salah satu makna bagi yang tidak menunda-nunda lagi berhaji ke Baitullah. Di sini pula manusia disadarkan kembali bahwa pada hakikatnya manusia itu satu keluarga dalam ikatan satu keimanan. Siapa pun dia dari bangsa apapun adalah saudara bila ia mukmin atau muslim. Tetapi bila seseorang itu kafir adalah bukan saudara kita meskipun dia lahir dari rahim ibu yang sama. Maka orang yang pulang dari haji hendaknya menjadi uswah hasanah bagi warga sekitarnya tidak membesar-besarkan perbedaan yang dimiliki sesama muslim terutama dalam hal yang disebut furuiyah.

Menyadari kembali bahwa segala ni’mat yg diberikan Allah pada hakikatnaya adalah sebagai cobaan atau ujian. Apabila ni’mat itu diminta kembali oleh yang memberi maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Hari ini jadi konglomerat esok bisa jadi melarat dengan utang bertumpuk jadi karat. Sedang ni’mat yang berupa harta hendaknya kita ikhlas untuk berinfaq di jalan Allah seperti untuk berudhiyah (berqurban).

Percayalah dalam hal harta apabila kita ikhlas di jalan Allah niscaya Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda. Tetapi jika kita justru kikir pelit tamak bahkan rakus tunggulah kekurangan kemiskinan dan kegelisahan hati selalu menghimpitnya.

Akhirnya semoga Idul Adha dengan berbagai ibadah yang kita laksanakan sekarang ini dapat membangunkan kembali tidur kita . Kemudian kita berikhtiar lagi sekuat tenaga untuk memperbanyak amal saleh sebagai pelebur amal-amal buruk selama ini. Amin!

SUMBER: ARTIKEL Drs. Syafi’i Salim Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia (dengan beberapa suntingan)

Saudara Rosul

Rosul saw bersabda juga:
Nanti aku merindukan saudara saudaraku,para sahabat bertanya,bukankah kami adalah saudara saudaramu.Rosul menjawab bukan kalian adalah teman temanku,saudaraku ada di akhir zaman,dia tidak melihat aku tapi ia beriman kepadaku,dia tidak melihat aku tapi ia menjalankan syariatku.Maka orang yang seperti ini mendapat 10kali pahala dari kalian.lalu sahabat bertanya lagi mengapa demikian.Rosul menjawab:karna lingkungan mereka tidak mendukung.kalu sekarang lingkungan kalian mendukung.

Akhir zaman

Sekarang sudah memasuki akhir zaman,banyak sekali kemungkaran merajalela.Rosul bersabda:
Laaya'tiizamaanun illaa walahu ba'dahu sharru minna.
Yang artinya:
Tidak datang suatu zaman kecuali zaman yang akan datang lebih bejad dari zaman sebelumnya.kalo itu dikatakan di zaman rosul bagaimana dengan sekarang?
Habib Abdullah bin alwi al hadad penyusun zikir rotib al hadad pernah berdoa dalam doanya dia berkata:
Yaa allah bangkitkanlah aku bersama tentaranya imam mahdi.tentaranya imam mahdi itu kalo tidak salah tidak kurang 124000 awlia/wali.jadi tentaranya adalah para wali yang ada hingga hari kiamat.Setelah di pelajari ia berdoa lagi.ya alla matikan aku sebelum zamannya imam mahdi,karna aku takut tidak sanggup menghadapi fitnah yang ada di zaman sebelumnya.seperti sekarang ini.

Ciri-ciri ulama ukhrowi

Ciri-ciri ulama ukhrowi adalah:
1.Tidak menggunakan ilmunya untuk mencari dunia.
2.Perbuatanya tidak bertentangan dengan ucapanya.
3.Tidak condong kepada kemegahan dunia (tidak cinta dunia).
4.Tidak bangga apabila duduk dengan umaro' (pejabat).

5.Menjadi orang yang tawadu/tidak sombong.
6.Selalu takut dengan allah.
7.Takut siksa kubur,azab,neraka.
8.zuhud dengan dunia.
9.Banyak bersedekah.
10.Cinta terhadap umat Nabi muhamad.
11.Selalu melazimi ibadah.
12.Tidak pernah sakit hati.
13.Tidak pernah kasar.
14.Tidak membiarkan kemungkaran.
15.Ulama akhirat tidak cinta jabatan/pujian.

KEUTAMAAN HARI-HARI TASYRIK

KEUTAMAAN HARI-HARI TASYRIK


Tasyrik adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu, hari-hari tanggal 11, 12, dan 13 di bulan Dzulhijjah. Tasyriq atau syuruq bermakna terbit. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa dinamakan hari tasyrik karena pada hari-hari itu –selain tanggal 10—kaum Muslimin yusyriqun (menjemur) daging qurban mereka, juga hewan qurban disembelih setelah matahari terbit (s
yuruq).

Dalam al-Qur’an hari tasyrik disebut hari-hari untuk ibadah, hal ini lebih khusus untuk jamaah haji yang pada hari-hari itu tengah melakukan mabit atau menetap di Mina, dimana mereka terus mendekatkan diri, beribadah dan melempar jumrah. Allah swt berfirman,

“Dan berzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan (hari-hari tasyrik ). Maka, siapa yang ingin cepat (berangkat dari Mina ) sesudah dua hari, maka tiada dosa atasnya. Dan, barang siapa yang ingin menangguhkan, maka tiada dosa pula atasnya bagi orang yang bertakwa.” ( al-Baqarah [2] : 203)

Adapun keutamaan hari-hari tasyrik sebagaimana disebutkan dalam hadits di antaranya adalah, sebagai hari-hari yang agung untuk beribadah. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qarr (hari tasyrik).” (HR. Abu Daud)

Dalam hadits yang lain, hari-hari tasyrik merupakan hari menikmati makan dan minum, hari raya, hari berbahagia karena padanya terdapat qurban. Nabi saw bersabda, “Hari-hari Tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.” Karena itu pada hari-hari itu umat Islam diharamkan berpuasa, kecuali bagi jamaah haji — bila belum melaksanakan puasa di hari sebelumnya–yang memilih melaksanakan haji tamattu’ dan qiran sementara ia tidak mampu membayar dam dengan menyembelih hadyun yang diwajibkan atasnya.

Demikian pula dianjurkan memperbanyak zikir, berdoa kepada Allah. Disunahkan melantunkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid (takbiran) selepas shalat fardhu mulai pada Idul Adha dan hari-hari tasyrik (10-13 Dzulhijah). Hal ini sebagaimana yang Allah perintahkan pada surah al-Baqarah ayat 203 tersebut.

Dikutip dari: Islampos.com

01. ummi tersayang selalu berpesan | agar urusan dakwah jangan terlalu jadi beban pikiran
02. namun entah kenapa otak ini enggan berhenti bekerja | sepertinya aku tak bisa berlepas tanggungjawab begitu saja
03. memastikan agar materi tetap rapi tersedia | dan agar semangat dakwah ikut menular pula
04. menyampaikan hal yang sama ratusan kali tidaklah mudah | apalagi menyangkut kebangkitan Islam yan
g ditentukan sudah
05. ibadah harus kau jaga, penampilan dakwah harus sempurna | tak ada alasan untuk alpa, dan tak ada toleransi bagi lupa
06. apapun yang keluar dari lisanmu selalu dinanti | setiap yang engkau tuliskan harus selalu punya arti
07. apa yang orang lain ketahui mestilah kau tahu | dan engkau akan disalahkan bila engkau tidak tahu
08. sungguh berat jadi pengemban dakwah | tak sedikitpun boleh lalai karena engkau adalah contoh
09. walau baru mengenal Islam engkau dituntut harus naik panggung | dan orang lain tak mau tahu walau ilmumu masih tanggung
10. walau baru berkenalan dengan huruf hijaiyah | engkau harus mampu melafalkannya dengan lihai tanpa salah
11. kau diharuskan baca arab gundul walau belum fasih yang gondrong sekalipun | atau engkau akan diusir dari halqah tanpa ampun
12. orang-orang selalu mengharapkan lebih banyak darimu | ketika harapan dipundakmu lebih daripada yang mampu engkau jangkau
13. mereka takkan mau mendengar "aku masih belajar" | tapi mereka senang mendengar "aku sudah sejajar"
14. pelajaran yang mereka serap dalam puluhan tahun | engkau harus bisa melakukannya dalam hitungan bulan
15. engkau masih bertanya apa itu ulul azmi? | sementara mereka sudah meminta penjelasan kepadamu tentang khilafah ats-tsanni?
16. hidupmu tetaplah hanya urusanmu | tapi hidup mereka juga jadi urusanmu
17. sampai akhirnya engkau bisa memenuhi apa yang mereka minta | tiada habis kecuali mereka akan selalu meminta lebih besar cinta
18. sementara mereka bisa bercanda dengan yang terkasih | engkau harus meninggalkan yang engkau cintai karena dakwah
19. bila engkau ingin membagi waktumu lebih kepada istri dan keturunan | mereka bilang engkau tidak berserius dalam perjuangan
20. namun bilapun engkau berupaya penuhi setiap pinta luas | namun apa yang engkau lakukan layaknya menggarami lautan luas
21. mereka kata "enaknya berjalan berpindah dari satu kota ke kota yang lain, keliling Indonesia dan dunia"
22. namun mereka tak pernah tahu bagaimana rasa ayah yang meninggalkan anaknya yang tiga
23. belum lagi terselip rasa khawatir | bahwa kita berbagi pada seluruh dunia, namun tak cukup dalam mengajar keluarga?
24. mengatur segala sesuatu agar maisyah sejalan dengan dakwah | karena dakwah adalah pengorbanan harta bukan pendapatan belanja
25. teman berkata | "enaknya jadi public figure, bisa tebar manfaat dan punya fans dimanapun dia berada, ditunggu dimana-mana"
26. jadi teladan itu berat sebab materimu harus berisi pelajaran | setiap kata harus diselip dengan pengajaran dan makna
27. ayat-ayat Qur'an harus mewujud dalam dirimu | karena setiap saat apa yang engkau lakukan akan jadi bahan pendidikan bagi generasi muda
28. ikhlas diuji, peluang pahala sebanyak peluang maksiat | silap tersalah apapun akan jadi fitnah, bila terlupa mulia akan hina
29. jangan tanya apakah pengemban dan penjuang dakwah pernah merasa lelah | mereka tak boleh lelah
30. jangan bertanya apakah pengemban dan pejuang dakwah pernah mengeluh | mereka tak boleh mengeluh
31. jika boleh kita meminta istirahat | maka Imam Ahmad mengingatkan itu akan terjadi saat kaki menginjak surganya ahli dzikir
32. bersabar hari demi hari, tahun demi tahun | sampai Allah menurunkan pertolongan bagi Mukmin | hari itu selalu dinanti dan dipikir
COPAS dari Ustadz Felix Siauw