PUNCAK CIREMAI

PUNCAK CIREMAI
Tampilkan postingan dengan label ZOOLOGI INVERTEBRATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ZOOLOGI INVERTEBRATA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

Penaeus monodon

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Indonesia dengan garis pantainya sepanjang 81.000 km dan perairan pantainya seluas 5.6 juta km2 berpotensi untuk menghasilkan produk perikanan yang dapat mensejahtrakan rakyatnya.  Selain itu wilayah perairan pantai tersebut juga merupakan sumber lapangan kerja bagi penduduk sekitarnya, wisata bahari dan pantai.
produk perikanan, udang dan ikan yang menjadi sentral utama dari ekonomi Indonesia kedepan. Salah satunya adalah pengembangan kegiatan budidaya pantai di awal tahun 1980-an.  Budidaya pantai yakni pertambakan dilakukan secara lebih intensif dengan komoditas utama saat ini adalah udang windu Penaeus monodon.  Produk budidaya ini terutama untuk tujuan ekspor mancanegara sebagai penghasil devisa.
1.  2 Tujuan penulisan
          Tujuan dari penulisan ini adalah untuk lebih memudahkan dalam mempelajari Penaeus monodon secara khusus serta mampu membedakan dengan pengelompokan / penggolongan dengan filum antrophoda dari spesies yang satu dan yang lainnya.
         
1.   3  Manfaat
          Maanfaat dari udang windu sendiri adalah sebagai sumber protein yang sangat tinggi. Sampai-sampai limbah dari kulit udang yang mengandung chithin  tersebut di Negara maju digunakan untuk kebutuhan industri seperti di bidang farmasi, bioteknologi, kosmetik, kertas, pangan dll.

BAB II
TINJAUAN UMUM
2.     1. Pengertian Crustacea
Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda, terdiri dari kurang lebih 52.000 spesies yang terdeskripsikan, dan biasanya dianggap sebagai suatu subfilum. Kelompok ini mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, udang karang, serta teritip Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung, usus, dan anus Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2 berdifusi dengan arah berlawanan. O2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah. Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali.


2.     2 siklus hidup
Betina mampu menelurkan 500.000 hingga 1 juta telur, yang akan menetas setelah 24jam menjadi larva (nauplius). Nauplius kemudian bermetamorfosis memasuki fase ke-2 yaiutu Zoea . Zoea memakan ganggang liar. Setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi Mysis. Mysis ini memakan ganggang dan zooplankton. Setelah 3-4 hari kemudian mereka bermetamorfosis terakhir kali memasuki tahap pasca larva, yaitu udang muda yang sudah memiliki c iri-ciri hewan dewasa. Seluruh proses tersebut memakan waktu sekitar 12 hari dari pertama kali menetas.
Pascalarva kemudian bermigrasi ke estuary, yang sangat kaya akan nutrisi dan bersalinitas rendah. Disana mereka menjadi dewasa. Udang tersebut merupakan hewan bentik yang utamanya tinggal didasar laut.




















BAB III
TINJAUAN KHUSUS
3.     1. Klasifikasi
Menurut Courtland (1999), udang windu dapat diklasifikasikan adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub-kelas : Malacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobranchiata
Famili : Penaeidae
Spesies : Penaeus monodon

3.     2.Morfologi Udang Windu
            Ditinjau dari morfologi , tubuh udang windu (Panaeus monodon). Terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (kepala-dada) disebut cephalothorax dan bagian perut (abdomen) yang terdapat ekor dibagian belakangnya. Semua bagian badan terdiri dari ruas-ruas (segmen). Kepela-dada terdiri dari 13 ruas, yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas, sedangkan bagian perut terdiri dari atas 6 segmen dan 1 telson. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula.
            Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton, yang terbuat dari zat chittin. Bagian kepala ditutupi oleh cangkang kepala (karapaks) yang ujungnya meruncing disebut rostrum. Kerangka tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungan antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak. Udang windu betina lebih cepat tumbuh daripada udang jantan. Sehingga pada umur yang sama tubuh udang betina lebih besar daripda udang windu jantan.
            Dibagian kepala-dada terdapat anggota tubuh lainnya yang berpasng-pasangan. Berturut-turut dari muka kebelakang adalah sungut kecil (antennula), sirip kepala (scophocerit), sungut besar (antenna), rahang (mandibula), alat-alat pembantu rahang (maxilla), dan kaki jalan (pereiopoda). Dibagian perut terdapat 5 pasng kaki renang (pleopoda). Ujung ruas ke-6 arah belakang menbentuk ujung ekor (telson) dibawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus).
3.Makanan dan kebiasaan makan
Udang windu bersifat omnivor, pemakan detritus dan sisa-sisa organik baik hewani maupun nabati. Udang ini mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri dengan makanan yang tersedia di lingkunagnnya, tidak besifat terlalu memilih-milih (Dall dalam Toro dan Soegiarto, 1979). Sedang pada tingkat mysis, makanannya berupa campuran diatome, zooplankton seperti balanus, veligere, copepod dan trehophora
Udang windu merupakan organisme yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Jenis makanannya sangat bervariasi tergantung pada tingkatan umur. Pada stadia benih, makanan utamanya adalah plankton (fitoplankton dan zooplankton). Udang windu dewasa menyukai daging binatang lunak atau moluska (kerang, tiram, siput), cacing, annelida yaitu cacing Polychaeta, dan crustacea. Dalam usaha budidaya, udang windu mendapatkan makanan alami yang tumbuh di tambak, yaitu klekap, lumut, plankton, dan benthos. Udang windu akan bersifat kanibal bila kekurangan makanan.



BAB IV
PEMBAHASAN

Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang penaeid oleh para ahli. Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.
MANFAAT
  1. Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
  2. Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dll.
  3. Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.
  4. Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
  5. Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dll.
  6. Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.



BAB V
KESIMPULAN
Sebagian besar udang windu dikonsumsi oleh manusia sebagai makanan yang kaya protein hewani, udang windu dapat dibudidayakan dan juga bertujuan sebagai sumber devisa Negara non migas.
Udang windu merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Udang windu termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid.. Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.


















DAFTAR PUSTAKA

Darmono. 1991. Budidaya Udang Penaeus . Kanisius. Yogyakarta.
Suyanto, S.R. dan Mudjiman, A. 1999. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.
Murtidjo, B.A. 1992. Budidaya Udang Windu Sistem Monokultur. Kanisius. Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Udang_windu



Anadara granosa

DAFTAR ISI

Daftar Isi.................................................................................................................................. 1
BAB I   Pendahuluan............................................................................................................. 2
1.1              Latar Belakang.................................................................................................. 2
1.2              Tujuan............................................................................................................... 2
1.3              Manfaat............................................................................................................. 2
BAB II   Tinjauan Umum....................................................................................................... 3
2.1              Pengertian......................................................................................................... 3
2.2              Klasifikasi Umum............................................................................................. 3
2.3              Habitat Pelecypoda........................................................................................... 4
2.4              Sturuktur Tubuh................................................................................................ 4
2.5              Sistem Organ.................................................................................................... 5
2.6              Daur Hidup....................................................................................................... 5
BAB III  Tinjauan Khusus..................................................................................................... 7
3.1              Klasifikasi......................................................................................................... 7
3.2              Ciri Fisik........................................................................................................... 8
3.3              Pertumbuhan Dan Perkembangan..................................................................... 8
BAB IV ...................................................................................................................................  Pemabahasan        9
BAB V   ................................................................................................................................... 10
4.1              Kesimpulan....................................................................................................... 10
4.2              Daftar Pustaka.................................................................................................. 10


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Pada makalah ini yang bertemakan filum molusca dengan kelas pelecypoda untuk memenuhi tugas mata kuliah zoologi invertebrata yang bertujuan untuk lebih mengerti secara khusus tentang Kerang darah (Anadara granosa) baik manfaat yang diberikan kepada manusia serta peranannya bagi mahkluk hidup lainnya.
1.2  Tujuan
Tujuan dari penulisan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah zoology invertebrata yang serta bertujuan untuk dapat memahami tentang materi yang akan dipresentasikan yaitu fillum molusca dengan kelas bivalvia. Dan lebih spesifiknya lagi mengenai Anadara Granosa atau disebut kerang darah.
1.3  Manfaat

Pada filum molusca dengan kelas pelecypoda tentang  kerang darah (Anadara granosa) yang sangat bermanfaat bagi manusia yaitu berupa bahan makan sebagai sumber vitamin dan nutrisi yang sangat penting bagi tubuh.
Kerang-kerangan banyak bermanfaat dalam kehidupan manusia sejak masa purba. Dagingnya dimakan sebagai sumber protein. Cangkangnya dimanfaatkan sebagai perhiasan, bahan kerajinan tangan, bekal kubur, serta alat pembayaran pada masa lampau. Mutiara dihasilkan oleh beberapa jenis tiram. Pemanfaatan modern juga menjadikan kerang-kerangan sebagai biofilter terhadap polutan.



BAB II
TINJAUAN UMUM
BIVALVIA / PELECYPODA
2.1  Pengertian
Bivalvia adalah kelas dalam moluska yang mencakup semua kerang-kerangan: memiliki sepasang cangkang (nama "bivalvia" berarti dua cangkang). Nama lainnya adalah Lamellibranchia, Pelecypoda, atau bivalva. Ke dalam kelompok ini termasuk berbagai kerang, kupang, remis, kijing, lokan, simping, tiram, serta kima; meskipun variasi di dalam bivalvia sebenarnya sangat luas.
2.2  Klasifikasi Umum
Pada kelas pelecypoda dibagi menjadi (6 subkelas ; 10 ordo)
a.       Subkelas paleotaxodonta contoh: nukula,yoldia (ordo nuculoida)
b.      Subkelas cryptodonta contoh: solemya (orda solemyoida)
c.       Subkelas pteriomorpha contoh: arca, anadara, barbatia, glycimeris (ordo arcoida); mytilus, pinna, pinctada, lima, crassostrea (ordo mytiloida)
d.      Subkelas paleoheterodonta contoh: anodonta, contradens, corbicula (ordo unionida); neotrigonia (ordo trogonioda)
e.       Subkelas heterodonta contoh: periglypta, cardium, tridacna, solen, tellina (ordo veneroida); pholas, barnea, teredo (ordo myoida); (ordo hippuritoida)
f.       Subkelas anomalodesmata contoh: poromya, cuspidaria, pandora (ordo pholadomyoida)
Karakteristik Umum
1.      Tubuh pipih, bilarateral, kepala tidak sempurna tanpa mata, faring, rahang, radikula dan tentakel.
2.      Cangkang 2 (Bivalvia), umumnya simetris kiri kanan.
3.      Kaki antero – ventral seperti kapak (Pelecypoda)
4.      Ingsang tipis berlapis – lapis (Lamellibranchiata) 1 atau 2 pasang
5.      Mantel: Lobus kanan dan kiri
6.      Sistem syaraf: ganglion serebra dan pleura
7.      Diesi, larva veliger atau glochidium  
2.3  Habitat Pelecypoda
+ 40000 jenis Kerang yang hidup di laut dan remis yang hidup di air tawar adalah contoh kelas Pelecypoda. Hewan Pelecypoda bisa hidup di air tawar, dasar laut, danau, kolam, atau sungai yang lainnya banyak mengandung zat kapur.
Hewan ini memiliki dua kutub (bi = dua, valve = kutub) yang dihubungkan oleh semacam engsel, sehingga disebut Bivalvia. Kelas ini mempunyai dua cangkok yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkok ini berfungsi untuk melindungi tubuh. Cangkok di bagian dorsal tebal dan di bagian ventral tipis. Kepalanya tidak nampak dan kakinya berotot. Fungsi kaki untuk merayap dan menggali lumpur atau pasir.
Cangkok ini terdiri dari tiga lapisan,yaitu:
a.       Periostrakum, adalah lapisan terluar dari zat kitin yang berfungsi sebagai pelindung.
Periostrakum merupakan lapisan terluar, dibentuk dari zat kitin yang disebut konkiolin berfungsi sebagai pelindung. Jika basah berwarna biru tua, jika kering berwarna coklat.
2.4  Struktur Tubuh
Jika diamati, cangkangnya terbagi dalam dua belahan yang diikat oleh ligamen sebagai pengikat yang kuat dan elastis. Ligamen ini biasanya selalu terbuka, apabila diganggu, maka akan menutup. Jadi, membuka dan menutupnya cangkang diatur oleh ligamen yang dibantu oleh dua macam otot, yaitu pada bagian anterior dan posterior. Tampak garis konsentris yang sejajar, garis ini disebut sebagai garis pertumbuhan yang menunjukkanmasa pertumbuhan lamban atau tidak ada pertumbuhan. Garis ini berselangseling dengan pita pertumbuhan yang menunjukkan pertumbuhan cepat. Semakin banyak garis dan pita pertumbuhan, maka makin tua umur hewan tersebut. Bagian cangkang yang paling tua biasanya paling tebal, menonjol, letaknya pada bagian persendiaan yang disebut umbo. Pada bagian posterior cangkang ada dua macam celah yang disebut sifon. Celah yang berada di dekat anus dinamakan sifon, berfungsi untuk keluar masuknya air dan zatzat sisa. Sebaliknya sifon masuk terletak di bagian sebelah bawah sifon keluar yang berfungsi untuk masuknya oksigen, air, dan makanan.
Cangkang pelecypoda
Cangkang/rumah Pelecypoda terdiri atas bagian-bagian berikut.
Periostrakum, Periostrakum merupakan lapisan terluar, dibentuk dari zat kitin yang disebut konkiolin berfungsi sebagai pelindung. Jika basah berwarna biru tua, jika kering berwarna coklat.
  1. Prisma, Prisma merupakan lapisan tengah yang tersusun dari kristal kalsit.
  2. Nakre, Nakre disebut sebagai lapisan induk mutiara yang tersusun dari lapisanlapisan tipis paralel dan kalsit (karbonat) yang tampak mengkilat.
  3. Mantel, Mantel terletak di bawah nakreas yang terdiri atas sel-sel nakreas
(yangsekretnya membentuk lapisan nakreas dan membentuk mutiara) jaringan ikat, dan sel-sel epitelium yang bersilia.
2.5  Sistem Organ
Sistem pencernaannya dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan anus. Mulut dan anusnya terletak dalam rongga mantel. Sistem ekskresinya menggunakan sepasang nefridium yang berfungsi seperti ginjal. Adapun sistem sarafnya terdiri atas otak, simpul saraf kaki, dan simpul saraf otot. Sistem peredaran darahnya terbuka, jantungnya terdiri atas sebuah bilik dan dua serambi. Respirasinya dengan menggunakan insang.
2.6  Daur Hidup
Hewan ini ada yang bersifat hermaprodit dan kebanyakan hewan ini mempunyai alat kelamin yang terpisah. Pada saat terjadi perkawinan, alat kelamin jantan akan mengeluarkan sperma ke air dan akan masuk dalam tubuh hewan betina. Melalui sifon air masuk, sehingga terjadilah pembuahan. Ovum akan tumbuh dan berkembang yang melekat pada insang dalam ruang mantel, kemudian akan menetas dan keluarlah larva yang disebut glokidium. Larva ini akan keluar dari dalam tubuh hewan betina melalui sifon air keluar, kemudian larva tersebut menempel pada insang atau sirip ikan dan larva tersebut akan dibungkus oleh lendir dari kulit ikan. Larva ini bersifat sebagai parasit kurang lebih selama 3 minggu. Setelah tumbuh dewasa, larva akan melepaskan diri dari insang atau sirip ikan dan akan hidup bebas.


















BAB III
TINJAUAN KHUSUS

3.1  Klasifikasi
Kerajaan     : Animalia
Filum          :
Mollusca
Kelas          :
Bivalvia
Upakelas    :
Pteriomorphia
Ordo           :
Arcoida
Famili         :
Arcidae
Genus         :
Anadara
Spesies       : A. granosa
            Kerang darah termasuk dalam kelas pelecypoda yang didalamnya terdapat sub kelas pterimorpha dengan ordo arcoida.
Kerang darah mempunyai dua buah cangkang yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkang pada bagian dorsal tebal dan bagian ventral tipis. Cangkang ini terdiri atas 3 lapisan, yaitu;
(1) periostrakum adalah lapisan terluar dari kitin yang berfungsi sebagai pelindung.
(2) lapisan prismatic tersusun dari kristal-kristal kapur yang berbentuk prisma,
(3) lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan paralel.
            Ciri kerang darah adalah sebagai berikut: mempunyai 2 cangkang yang tebal, elifs dan kedua sisi sama, kurang lebih 20rb, cangkang berwarna putih ditutupi periostrakum yang berwarna kuning kecoklakatan sampai coklat kehitaman. Ukuran dewasa 6-9cm.

3.2  Ciri Fisik
Cangkang memiliki belahan yang sama melekat satu sama lain pada batas cangkang. Rusuk pada kedua belahan cangkangnya sangat kentara. Cangkang berukuran sedikit lebih panjang dibanding tingginya tonjolan (umbone) yang sangat kentara. Setiap belahan Cangkang memiliki 19-23 rusk.
3.3  Pertumbuhan Dan Perkembangan
Dibanding kerang hijau, laju pertumbuhan kerang darah relatif lebih lambat. Laju pertumbuhan 0,098 mm/hari. Untuk tumbuh sepanjang 4-5 mm, kerang darah memerlukan waktu sekitar 6 bulan. Presentase daging terbesar dimiliki oleh A. granola, yaitu sebesar 24,3%.
Kerang darah memijah sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada bulan Agustus/September. Hewan ini termasuk hewan berumah dua (diocis). Kematangan gonad terjadi pada saat kerang darah mencapai ukuran panjang 18-2o mm dan berumur kurang dari satu tahun. Adapun pemijahan mulai terjadi pada ukuran 20 mm.



        






BAB IV
PEMBAHASAN
Kerang darah (Anadara granosa) adalah sejenis kerang yang biasa dimakan oleh warga Asia Timur dan Asia Tenggara. Anggota suku Arcidae ini disebut kerang darah karena ia menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah yang dihasilkannya.
Kerang ini menghuni kawasan Indo-Pasifik dan tersebar dari pantai Afrika timur sampai ke Polinesia. Hewan ini gemar memendam dirinya ke dalam pasir atau lumpur dan tinggal di mintakat pasang surut. Dewasanya berukuran 5 sampai 6 cm panjang dan 4 sampai 5 cm lebar.
Budidaya kerang darah sudah dilakukan dan ia memiliki nilai ekonomi yang baik. Meskipun biasanya direbus atau dikukus, kerang ini dapat pula digoreng atau dijadikan satai dan makanan kering ringan. Ada pula yang memakannya mentah.
Seperti kerang pada umumnya, kerang darah merupakan jenis bivalvia yang hidup pada dasar perairan dan mempunyai ciri khas yaitu ditutupi oleh dua keping cangkang (valve) yang dapat dibuka dan ditutup karena terdapat sebuah persendian berupa engsel elastis yang merupakan penghubung kedua valve tersebut.
Puncak cangkang disebut umbo dan merupakan bagian cangkang yang paling tua. Garis-garis melingkar sekitar umbo menunjukan pertumbuhan cangkang. Mantel pada pelecypoda berbentuk jaringan yang tipis dan lebar, menutup seluruh tubuh dan terletak di bawah cangkang. Beberapa kerang ada yang memiliki banyak mata pada tepi mantelnya. Banyak diantaranya mempunyai banyak insang. Umumnya memilikikelamin yang terpisah, tetapi diantaranya ada yang hermaprodit dan dapat berubah kelamin.
Kakinya berbentuk seperti kapak pipih yang dapat dijulurkan keluar. Kaki kerang berfungsi untuk merayap dan menggali lumpur atau pasir. Kerang bernafas dengan dua buah insang dan bagian mantel. Insang ini berbentuk lembaran-lembaran (lamela) yang banyak mengandung batang insang. Antara tubuh dan mantel terdapat rongga mantel yang merupakan jalan keluar masuknya air.

BAB V

4.1  Kesimpulan
Kerang darah (Anadara granosa) adalah sejenis kerang yang biasa dimakan oleh warga Asia Timur dan Asia Tenggara. Anggota suku Arcidae ini disebut kerang darah karena ia menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah yang dihasilkannya.
Kerang ini menghuni kawasan Indo-Pasifik dan tersebar dari pantai Afrika timur sampai ke Polinesia. Hewan ini gemar memendam dirinya ke dalam pasir atau lumpur dan tinggal di mintakat pasang surut. Dewasanya berukuran 5 sampai 6 cm panjang dan 4 sampai 5 cm lebar.
Pertumbuhan Dan Perkembangan
Dibanding kerang hijau, laju pertumbuhan kerang darah relatif lebih lambat. Laju pertumbuhan 0,098 mm/hari. Untuk tumbuh sepanjang 4-5 mm, kerang darah memerlukan waktu sekitar 6 bulan. Presentase daging terbesar dimiliki oleh A. granola, yaitu sebesar 24,3%.
Kerang darah memijah sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada bulan Agustus/September. Hewan ini termasuk hewan berumah dua (diocis). Kematangan gonad terjadi pada saat kerang darah mencapai ukuran panjang 18-2o mm dan berumur kurang dari satu tahun. Adapun pemijahan mulai terjadi pada ukuran 20 mm.

4.2  Daftar Pustaka