PUNCAK CIREMAI

PUNCAK CIREMAI
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

Robot mikroskopis (berstruktur DNA) pembunuh sel kanker dalam tubuh


Perangkat revolusioner yang dijelaskan dalam jurnal Nature ini di masa depan diharapkan bisa memimpin pasukan robot ahli bedah yang bisa membersihkan arteri manusia atau membangun komponen komputer di dalamnya.

Dikutip dari Daily Mail, salah satu pendukung proyek dari New York Columbia University ini bahkan telah mengembangkan robot laba-laba berukuran 4 nanometer atau sekitar 100.000 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia.
Robot laba-laba ini diharapkan dapat berjalan sepanjang lintasan DNA. Dengan menggunakan alur yang sesuai dengan urutan, robot dapat dibuat untuk berjalan, berbelok ke kiri atau kanan sesuai alur untaian DNA.
Tubuh robot ini terdiri dari protein yang biasa disebut streptavidin. Melekat padanya kaki tiga ‘enzimatik DNA’ untai tunggal yang mengikat dan kaki keempatnya adalah untaian yang membawa laba-laba ke titik awal.
“Setelah robot dilepaskan dari pemicu, maka ia akan mengikat kemudian memotong untaian DNA,” ujar Milan Stojanovic selaku ketua tim proyek. Setelah untaian dipotong, kaki robot mulai meraih jalur dan mencocokan DNA. Dengan ini, robot dipandu ke jalur yang ditetapkan oleh peneliti.

Untuk melihat robot ini bergerak, para peneliti menggunakan mikroskop kekuatan atom. Robot ini bisa mencatat tanda-tanda penyakit pada permukaan sel, menentukan sel itu adalah kanker, menghancurkan sel kanker bahkan robot itu bisa memberikan senyawa untuk membunuhnya.
Rupanya ‘DNA berjalan’ ini sudah dikembangkan sejak dulu, namun mereka tak pernah mencapai prestasi seperti saat ini. “Robot itu bisa berjalan hingga 100 nanometer atau sekitar 50 langkah,” ungkap Profesor Yan asal Arizona State University.
“Ini pertama kalinya sistem mesin nano digunakan untuk melakukan operasi. Sebuah kemajuan penting dalam evolusi teknologi DNA,” kata Lloyd Smith dari University of Wisconsin, Madison.
Hampir 6 miliar poundsterling diinvestasikan dalam penelitian dan pengembangan produk nano di seluruh dunia.
Sumber : detikinet.com | lintasberita.com


Penemuan Reagen yang Membuat Sel Kanker Bercahaya & Terlihat Mata oleh Tim Jepang

Sebuah tim Jepang telah mengembangkan zat reagen yang dapat membuat sel kanker bercahaya dan dapat terlihat dengan mata telanjang, suatu kemajuan yang bisa membantu ahli bedah lebih akurat dalam membedakan antara jaringan kanker dan jaringan yang sehat, menurut jurnal medis Scienc Translational Medicine.
Dalam beberapa menit, setelah pereaksi disemprot, yang dikembangkan oleh Yasuteru Urano, seorang profesor kimia biologi di University of Tokyo, dan Hisataka Kobayashi, kepala ilmuwan di US National Institutes of Health, dapat menyoroti karsinoma lebih kecil dari 1 mm, di mana pencitraan resonansi magnetik dan alat lainnya tidak dapat mendeteksi. Perhatian tim tertarik pada enzim pada permukaan sel yang bekerja seperti gunting untuk memotong asam glutamat dari glutathione, dan para peneliti menciptakan sebuah molekul yang menyala hijau hanya ketika asam glutamat terputus.

Tim Jepang berhasil membuat sel kanker cahaya yang lebih dari 20 kali lebih terang dari sel-sel biasa dengan menyemprotkan reagen pada perut tikus. Perut mereka telah ditanamkan dengan sel kanker ovarium manusia, kata tim.

Tim ini masih menguji untuk melihat apakah molekul neon bisa menjadi racun bagi sel-sel, tetapi mereka mengataka ntidak ada efek berbahaya yang telah dideteksi sejauh ini bahkan dengan menggunakan sejumlah besar reagen. Mereka bertujuan menempatkan reagen untuk penggunaan praktis dalam beberapa tahun ke depan sebagai alat bantu yang mudah digunakan dan murah di rumah sakit untuk menemukan kanker dan mengangkat mereka tanpa perlu susah-susah memperhatikan karsinoma yang berukuran kecil.
Kanker adalah penyebab terbesar kematian di antara Jepang, yang diikuti oleh gagal jantung dan penyakit pembuluh otak.

sumber: lintasberita.com

Warna-warni indah dari perut semut

Warna-warni indah dari perut semut

Apa jadinya kalau semut makan makanan yang berwarna kuning? Ternyata perut semut ini ikutan berwarna kuning! Kita beri mereka makanan dengan warna yang lebih beragam maka kamu akan takjub melihat hasilnya.
Ketika Shameem melihat seekor semut yang berubah warna menjadi putih sehabis minum susu yang tercecer, ia segera memberitahu suaminya yang seorang ilmuwan, Mohamed Babu, 55.
Dr Babu lalu mencoba bereksperimen di halaman dengan memberi semut-semut ini makanan berupa gula yang berwarna-warni. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Perut mereka yang transparan berubah warnanya sesuai apa yang mereka makan. Beberapa semut mencoba mencicipi gula-gula dengan warna yang berbeda sehingga hasilnya perut mereka memiliki kombinasi warna yang menarik. Gula itu diteteskan diatas alas paraffin sehingga tetesan gula dapat mempertahankan bentuknya. Dr Babu yang berasal dari Mysore, India selatan ini mengaku kesulitan untuk menangkap gambar artistik dari para semut yang sedang bersantap gula warna-warni ini.
"Saya benar-benar harus kerja keras untuk mendapatkan sebuah foto. Gerombolan semut ini biasanya sudah tidak terkontrol hanya dalam beberapa menit dan ketika tangan kanan saya memegang kamera, tangan kiri saya sibuk menyingkirkan semut-semut yang lain."
"Sekali saya kehilangan kesempatan, saya harus mencobanya di keesokan hari. Anehnya, semut-semut ini lebih memilih warna-warna terang, kuning dan hijau." ujar sang ilmuwan.



sumber: vivanews.com

Katak memiliki kemampuan mendeteksi gempa


Para ilmuwan mengatakan mereka mungkin telah menemukan cara katak memperkirakan gempa bumi. Pada tahun 2009, katak-katak di L’Aquila, Italia menghilang dari kolam-kolam setempat, tiga hari sebelum gempa besar. Para peneliti -dalam laporan yang diterbitkan di Jurnal Internasional untuk Penelitian Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat- mengatakan batu-batu di kerak Bumi mengeluarkan partikel bermuatan, sebelum gempa dan hal ini mempengaruhi air. Para ilmuwan memperkirakan katak dapat mendeteksi perubahan ini sebelum lempeng tektonik bergeser. Tim yang dipimpin oleh Friedemann Freund dari NASA dan Rachel Grant dari Universitas Terbuka Inggris berharap hipotesis mereka ini dapat membantu pakar biologi dan geologi untuk bekerja sama mencari tahu bagaimana binatang mengetahui tanda-tanda gempa.

Reptil (ular,kadal,dll), Amfibi (Katak) dan Pisces (Ikan)

Katak di L’Aquila bukan satu-satunya binatang yang berperilaku aneh sebelum gempa. Sejumlah laporan menyebutkan reptil, amfibi, dan ikan juga berperilaku aneh sebelum gempa terjadi. Pada 1975, di Haicheng, Cina, banyak orang yang melihat ular keluar dari sarangnya, satu bulan sebelum kota itu diguncang gempa. Pergerakan ular ini aneh karena biasanya binatang ini tidur lama di tengah musim dingin, dan keluar pada saat suhu membeku merupakan tindakan bunuh diri untuk binatang berdarah dingin ini. Nona Grant, pakar biologi dari Universitas Terbuka, mengamati koloni katak di L’Aquila sebagai bagian dari penelitiannya.
“Sangat dramatis,” katanya. “Dari 96 katak menjadi kosong dalam waktu tiga hari.”
“Setelah itu saya dihubungi oleh NASA,” tambahnya.

Eksodus katak

“Begitu kita mengerti semua sinyal ini dan melihat ada empat atau lima petunjuk yang mengarah pada hal yang sama, maka kita bisa memperkirakan sesuatu akan terjadi.” Dr Freund
Para ilmuwan dari badan ruang angkasa Amerika Serikat tengah mempelajari perubahan kimia yang terjadi saat bebatuan di perut bumi mengalami tekakan besar. Mereka juga tengah meneliti apakah perubahan itu terkait dengan eksodus masal katak. Pakar geofisika Friedemann Freund mengatakan bebatuan di kerak bumi yang mengalami tekanan besar, mengeluarkan partikel. Partikel-partikel yang terlepas di udara saat mencapai permukaan Bumi menjadi molekul udara yang disebut ion. Perubahan kimia ini dapat mempengaruhi bahan organik yang larut di air dan menjadikan bahan ini beracun untuk binatang yang tinggal di air. Mekanisme ini rumit dan para ilmuwan mengatakan proses ini perlu diuji lagi secara cermat. Namun Dr Grant mengatakan mekanisme ini adalah yang pertama sebagai “petunjuk gempa” yang dapat dirasakan oleh binatang.
Dr Freund mengatakan sikap binatang ini dapat menjadi salah satu dari sejumlah hal yang dapat digunakan sebagai petunjuk gempa. “Begitu kita mengerti semua sinyal ini dan melihat ada empat atau lima petunjuk yang mengarah pada hal yang sama, maka kita bisa memperkirakan sesuatu akan terjadi,” kata Dr Freund kepada BBC Nature.
sumber: lintasberita.com